Friday, November 22, 2013

Dokter Demo, Pasien Melahirkan di Toilet Puskesmas !!!

















Warga Desa Kilimbatu, Kecamatan Pandawai, Sumba Timur, terpaksa melahirkan di toilet Puskesmas Kawangu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ini terjadi lantaran dokter dan petugas medis dikabarkan ikut dalam aksi demo solidaritas atas penahanan dr Ayu, dokter di Manado.

Kepada wartawan di Puskesmas Kawangu, Kecamatan Pandawai, Rabu (27/11/2013) siang, Kaita Lapir (72), ibu mertua Paji Dera, mengatakan sangat menyayangkan sikap para petugas kesehatan di lokasi itu.

Hal ini disebabkan tidak ada satu petugas kesehatan yang siap membantu para pasien di lokasi itu sejak pagi hari. Selain itu, dia juga menyayangkan kelahiran cucunya di dalam toilet.

Kaita menceritakan, peristiwa tersebut bermula ketika Paji yang tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya pergi ke WC puskesmas. Hal ini disebabkan dia tidak bisa membedakan rasa sakit akan melahirkan dan rasa sakit ingin buang hajat.

Saat Paji berada di mulut lubang WC dengan niat untuk membuang hajat, yang keluar malah janin perempuan dari dalam rahimnya. Bayi perempuan ini merupakan anak kedua. "Tuhan, kenapa punya cucu harus lahir begini. Kami sangat menyesal datang ke sini karena ditelantarkan," keluhnya.

Sesaat setelah melahirkan, lanjutnya, Paji digotong oleh anggota keluarganya menuju ke ruang bersalin puskesmas setempat yang tidak ada petugasnya itu.

Informasi yang dihimpun Pos Kupang di lokasi tersebut menyebutkan, sejak Rabu (27/11/2013) pagi, ratusan pasien di puskesmas setempat sudah ditelantarkan oleh para petugas kesehatan.

Kuat dugaan para petugas kesehatan di minta oleh pimpinan dan juga dokter di puskesmas itu untuk melakukan aksi mogok untuk mendukung perjuangan para dokter, menuntut pembebasan tiga dokter yang dipidana karena melakukan malapraktik.


Sumber : Pos Kupang

Hacker Bank Sentral dan Kantor Polisi Australia belum Tentu Orang Indonesia

Kepolisian Federal Australia dan Bank Sentral Australia menjadi korban serangan dunia siber. Mabes Polri menyangkal anggapan yang menuding pelakunya adalah peretas Indonesia.

"Kalau mengatasnamakan orang Indonesia, belum tentu orang Indonesia. Jadi ini harus diteliti dulu mulai dari pusat datanya, caranya meretas seperti apa, kemudian ditelusuri lagi sehingga kami belum bisa memastikan apakah itu orang Indonesia," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri Brigjen Arief Sulistyanto di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (22/11).

Menurut dia, peretas atau hacker pastinya adalah orang yang benar-benar menguasai masalah teknologi informasi sehingga tidak mungkin menggunakan identitas asli mereka.

"Tidak mungkin mereka meretas menggunakan identitas asli, itu pastihacker yang jujur alias bodoh," katanya.

Arief menjelaskan, dalam direktoratnya ada bagian khusus yang menangani masalah kejahatan dunia maya (cyber crime). Dalam penanganan kasus perestasan, hal pertama yang harus dilihat adalah lokasi data center atau pusat data.

Dalam kasus peretasan sejumlah situs pemerintahan Australia, penegakan hukum dilakukan di lokasi kejadian sesuai dengan yurisdiksi penegak hukum setempat.

"Dilihat juga bagaimana cara meretasnya, apakah diretas dengan metode DOS, DDoS, atau device (alat). Baru kemudian dicari pelakunya yang dipastikan oleh IP address," katanya.

Setelah ditemukan IP address pun, lanjut Arief, belum tentu bisa dipastikan yang bersangkutan benar orang Indonesia atau berada di Indonesia karena banyaknya perangkat lunak (software) yang digunakan untuk memanipulasi.

Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika mengaku belum mendapatkan kejelasan informasi terkait peretasan laman resmi The Reserve Bank of Australia (RBA) dan Australian Federal Police (AFP) yang diduga dilakukan kelompok Anonymous Indonesia.

Dugaan serangan kelompok yang menyebut diri mereka Anonymous Indonesia terhadap RBA dan AFP terjadi menyusul penyadapan sejumlah pejabat publik Indonesia oleh Australia dan Amerika Serikat.
    
Radio Australia melaporkan peretas yang mengaku anggota kelompok Anonymous Indonesia menyatakan bertanggung jawab atas serangan cyber terhadap website Kepolisian Federal Australia (AFP) dan Bank Sentral Australia (RBA).
    
"ABC mencoba mengakses laman AFP, www.afp.gov.au, Kamis (21/11/2013) Pukul 12:00 siang waktu Melbourne, namun tidak bisa terbuka. Tapi laman RBA di www.rba.gov.au tampaknya tidak mengalami masalah," tulis Radio Australia di laman mereka.
    
Kepolisian Federal Australia maupun Bank Sentral Australia, seperti disebut dalam laporan Radio Australia, membenarkan laman mereka memang mengalami serangan pada Rabu (20/11) malam.

Tapi, kedua institusi Australia itu menjamin tidak ada informasi sensitif yang berhasil diperoleh oleh para peretas.



Sumber : Metrotv

olahraga yang rutin tidak menyehatkan

Olahraga merupakan salah satu faktor yang dibutuhkan untuk hidup sehat. Namun ternyata terlalu banyak melakukannya juga belum tentu baik bagi kesehatan.

Sebuah studi baru menunjukkan, terlalu banyak olahraga bisa berakibat buruk bagi kesehatan. Bahkan efeknya hampir sama dengan orang yang tidak aktif bergerak.

Para peneliti mengungkap, remaja yang berolahraga berlebihan cenderung memiliki kepercayaan diri rendah, mudah cemas, dan stres, seperti mereka yang tidak pernah atau jarang berolahraga. Laki-laki maupun perempuan yang berolahraga lebih dari 17,5 jam per minggu memiliki tingkat kesehatan yang hampir sama dengan mereka yang hanya beraktivitas fisik 3,5 jam per minggu.

Olahraga, ujar mereka, memang dikenal sebagai kegiatan yang dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan mental dan fisik dengan cara mengurangi stres dan kecemasan. Ini karena olahraga mampu meningkatkan rasa percaya diri dan kekuatan otak.

Menurut peneliti, sebagian orang melakukan olahraga secara berlebihan, meski hanya minoritas yaitu sekitar lima persen dari populasi. Sementara itu, lebih banyak orang yang mengaku tidak aktif, yaitu sepertiga dari populasi. 

Peneliti juga mengungkap, kelompok yang paling diuntungkan adalah mereka yang berolahraga dalam porsi yang sedikit lebih dari cukup, yaitu 14 jam per minggu.

Studi yang dipublikasi dalam British Medical Journal tersebut menganalisa data pada lebih dari 1.200 remaja hingga dewasa muda yang berusia 16 hingga 20 tahun di Swiss selama bulan Februari 2009 hingga Januari 2010. Perhitungan kesehatan mental dan fisik dilakukan sesuai kriteria dari WHO dengan skala 0-25. Skor di bawah 13 mengindikasikan kesehatan yang kurang baik.

Dari total peserta, sepertiga di antaranya mengaku hanya berolahraga maksimal 3,5 jam per minggu, dua perlima berolahraga 3,6 hingga 10,5 jam per minggu, kurang dari seperlima berolahraga 10,6 hingga 17,5 jam, dan hanya lima persen yang mengaku melakukan olahraga hingga lebih dari 17,5 jam.

Setelah dihitung dengan skala kesehatan WHO, remaja yang ada di kelompok kurang olahraga dan kelebihan olahraga dua kali lebih mungkin untuk mendapat skor kurang dari 13. Sementara rata-rata peserta memiliki skor 17 dalam skala tersebut.